Ziarah Akbar MWC NU 3 Kecamatan, Tradisi Menghidupkan Sejarah dan Spiritualitas


Tumbang Titi, 9 Februari 2025 – Matahari pagi baru saja menyinari langit Tumbang Titi ketika puluhan kendaraan mulai berbaris rapi, bersiap untuk perjalanan panjang penuh makna. Sebanyak 53 mobil dan puluhan motor mengikuti iring-iringan Ziarah Akbar yang diadakan oleh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) dari tiga kecamatan—Sungai Melayu Rayak, Pemahan, dan Tumbang Titi.

Konvoi besar ini bukan sekadar perjalanan fisik dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga perjalanan spiritual menelusuri jejak para ulama dan syuhada yang telah berperan dalam menyebarkan Islam dan membangun fondasi kebangsaan di wilayah Kabupaten Ketapang.

Merajut Sejarah dalam Langkah Ziarah

Ketua MWC NU Sungai Melayu Rayak, Ustaz Juwaini Ahmad, menegaskan bahwa ziarah ini awalnya merupakan program rutin MWC-nya. Namun, tahun ini melibatkan dua MWC lainnya agar semakin luas dampaknya. "Ini bukan sekadar tradisi tahunan, tapi juga wujud penghormatan kepada para ulama yang telah berjasa bagi masyarakat," ungkapnya.

Dibantu Abu Haira sebagai pemandu kegiatan, rombongan pertama kali mengunjungi Makam Panglima Tentemak di Desa Pengatapan. Selama perjalanan, keamanan dan ketertiban konvoi dijaga ketat oleh anggota Polsek Tumbang Titi yang turut serta dalam pengawalan.

Destinasi berikutnya adalah Makam Haji Muhammad Said, ulama karismatik yang menjadi pendiri Kampung Tumbang Titi dan wafat pada tahun 1902. Perjalanan ziarah ini mencapai puncaknya di Makam Pahlawan Daerah Uti Usman di Dusun Pengancing, Desa Segar Wangi, tempat peristirahatan seorang tokoh perjuangan yang kisah heroiknya masih menginspirasi masyarakat setempat.

Lebih dari Sekadar Ziarah, Juga Pembelajaran Sejarah

Ada satu hal yang membedakan Ziarah Akbar 2025 dari tahun-tahun sebelumnya: peluncuran buku Haji Muhammad Said, karya Agus Kurniawan yang diiringi hujan gerimis sekejap. Buku ini tidak hanya menceritakan kehidupan sang ulama, tetapi juga mendokumentasikan perjuangannya dalam membangun komunitas Islam di Tumbang Titi.

Ketua panitia, Adi Mursal dari Yayasan Laskar Kedang Serikat, menyatakan bahwa keberadaan buku ini memberi dimensi tambahan bagi ziarah tahun ini. "Kami ingin para peserta bukan hanya datang untuk berdoa, tetapi juga mendapatkan pemahaman lebih dalam tentang sejarah yang melekat dalam kehidupan kita," ujarnya.

Rahmad, salah satu peserta, juga mengapresiasi tambahan elemen edukatif dalam ziarah kali ini. "Biasanya kita hanya datang, berdoa, dan pulang. Tapi kali ini, dengan penjelasan dari penulis buku, kita mendapat pemahaman lebih luas tentang sejarah ulama yang kita ziarahi," tuturnya.

Seorang anggota Muslimat NU menambahkan, "Saya merasa terharu. Ziarah ini bukan sekadar ritual, tapi juga momentum memperkuat ukhuwah dan mengenang nilai perjuangan para ulama."




Menghidupkan Warisan, Membangun Masa Depan

Seiring berjalannya waktu, banyak situs bersejarah yang mulai terlupakan. Ziarah seperti ini menjadi pengingat bahwa warisan para ulama tidak boleh pudar begitu saja. Dengan semakin banyak generasi muda yang terlibat, panitia berharap tradisi ini terus berlanjut.

"Kami ingin ini menjadi agenda rutin yang terus berkembang. Kita perlu lebih banyak kegiatan seperti ini agar sejarah kita tidak hanya menjadi kenangan, tetapi juga inspirasi bagi generasi mendatang," tutup Adi Mursal.

Ziarah Akbar MWC NU 2025 bukan hanya perjalanan mengenang sejarah, tetapi juga upaya menjaga spiritualitas dan kebersamaan. Dengan semangat kebangkitan dan persatuan, diharapkan acara seperti ini bisa terus menjadi penghubung antara generasi sekarang dengan warisan luhur para pendahulu.

#ZiarahAkbar2025 #MWCNU #SyabanBerkah #NapakTilasUlama #TumbangTiti #LaskarKedangSerikat #SejarahIslam #DoaDanIlmu



Postingan Populer