RAHADI OSMAN, PEJUANG KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA YANG GUGUR DI KETAPANG

 



Artikel ini, masih akan disempurnakan dengan data - data yang kami temukan.

Oleh: Agus Kurniawan

Rahadi Oesman (harusnya Osman, tulisan ini akan menuliskan seperti seharusnya) lahir pada tanggal 1 Agustus 1925 di (kala itu) negeri Pontianak di wilayah Kalimantan Barat, namanya Rahadi sedang Ismail Osman adalah nama ayahnya yang menikah dengan Sutinah Harjo Soegondho, ibunya. Rahadi adalah yang tertua dari tujuh anak Ismail Osman, saudara lelaki satu – satunya bagi enam saudarinya. Awalnya ia bernama Abdul Syukur sesuai pemberian Kakeknya, Haji Osman bin Walhidin yang perantauan jogja. Nama itu diubah oleh Kakek dari sebelah ibunya dengan nama Rahadi Osman, panggilannya “Tjong” atau dalam ejaan kini ia dipanggil “Cong”.

Walau mempunyai ayah seorang pengusaha, tidak menjadikan Rahadi Osman hidup bermewahan. Kepribadian, gaya hidup dan penampilannya sederhana walau ia anak orang kaya. Perawakan tubuh Rahadi Osman besar, tinggi, tegap dan berkacamata, mungkin keturunan dari ayahnya.

Ayah Rahadi, Ismail Osman adalah pengusaha percetakan besar yang ikut gugur dalam tragedi penyungkupan oleh Jepang karena aktivitas politiknya di Persatuan Anak Borneo (PAB). 

 Rahadi mendapatkan pendidikan dasar dengan bersekolah pada Europesche Langere School (ELS) di Pontianak selama tujuh tahun dari tahun 1930 hingga 1937.  Bahasa pengantar yang dipakai di ELS adalah bahasa Belanda. Peran ayahnya amat besar hingga ia bisa bersekolah di sekolah khusus peranakan eropa dan bangsawan pribumi itu. Rahadi siswa yang rajin dan berprestasi. 

Tamat ELS, tahun 1937 Rahadi Osman melanjutkan ke Hongere Burgerlijke School – Koning Willem III (HBS – K.W. III) untuk lima tahun berikutnya di Jakarta. Di sekolah ini ia aktif sebagai anggota dalam organisasi Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) di Jakarta, sebuah organisasi yang membangkitkan rasa kebangsaan anggotanya. Selanjutnya Rahadi melanjutkan pendidikannya ke Geneeskundinge Hoge School (GHS) atau Sekolah Tinggi Kedokteran (diubah oleh jepang menjadi Ika Dai Ghaku) di Jakarta. Saat ini menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, di Jalan Salemba Jakarta. 

Selama kuliah di sekolah kedokteran di Jakarta, ia melakukan berbagai pengabdian untuk bangsanya. Sebagai tanda bukti pengakuan dari pengabdiannya, nama Rahadi Osman tercantum pada urutan pertama dalam sebuah batu prasasti yang ada di ruang sebelah kiri gedung Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Replika prasastinya juga ada di Makam Pahlawan Rahadi Osman.

Rahadi Osman juga bergabung dalam gerakan pemuda Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang dipimpin oleh Chairul Saleh dan Soekarni. Pada tanggal 15 Agustus 1945, dalam perang Asia Timur Raya Jepang menyerah kalah kepada Sekutu. Meskipun demikian, Jepang masih tetap bersikap keras terhadap bangsa Indonesia. 

Para pemuda pejuang yang menginginkan bangsa Indonesia terlepas dari belenggu penjajahan Jepang kemudian mengadakan rapat untuk membicarakan persiapan proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia. Rapat tersebut antara lain dihadiri oleh Adam Malik, Wibowo, Djohar Noor, Dick Soedarsono, Ali Akbar, Rahadi Osman dan Ridwan. Rapat yang kedua pada keesokan harinya dihadiri antara lain oleh Syahrir, Darwis, Ridwan, Chaerul Saleh, Eri Sadewo dan lain-lain. Rapat yang kedua pada tanggal 16 Agustus 1945 tersebut menghasilkan keputusan bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945 akan dilangsungkan Proklamasi kemerdekaan Indonesia. 

Setelah teks proklamasi dikumandangkan, para pemuda pejuang segera menyebar ke seluruh kota di Indonesia untuk mempropagandakan teks proklamasi. Berita proklamasi juga akan disiarkan melalui radio dari studio radio di Jakarta. Hasil keputusan rapat lainnya adalah akan dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang dikemudian hari berubah nama menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Setelah teks proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan pada tanggal 17 Agustus 1945, Rahadi Osman bersama Des Alwi, Ridwan atas perintah Chairul Saleh membawa teks proklamasi untuk disiarkan melalui studio radio Jepang yang ada di Jakarta pada hari itu juga. Pekerjaan Rahadi Osman dan teman-temannya tersebut penuh dengan tantangan karena di dalam dan sekitar lokasi studio radio selalu ada serdadu Jepang yang berjaga-jaga. Melalui usaha keras, akhirnya teks proklamasi berhasil dibawa ke dalam studio radio Jepang dan warta berita teks proklamasi berhasil disiarkan pada jam 1 siang tanggal 17 Agustus 1945.

Awal Oktober 1945, Rahadi Osman dan teman-teman seperjuangannya menggabungkan diri dalam Palang Merah Indonesia (PMI). Misi mereka adalah masuk ke Kalimantan Barat dengan memakai nama organisasi itu. Usaha tersebut mendapat restu dan persetujuan dari Pangeran Muhammad Noor, yang menjabat sebagai Gubernur Kalimantan pada waktu itu. 

Rahadi Osman dan Machrus Effendi kemudian pergi menghadap Mr. Amir Syarifuddin yang pada waktu itu selain menjabat sebagai Menteri Pertahanan atas rekomendari P. Muhammad Noer. Setelah mereka menguraikan maksud dan tujuannya untuk berangkat ke Kalimantan Barat maka Mr. Amir Syarifuddin menyetujui dan memberikan sebuah mandat yang berisikan : “Boleh mempergunakan senjata dan membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) serta membentuk pemerintahan setempat”.



Selanjutnya, menjelang pertengahan bulan November 1945, sebanyak 30 orang pemuda telah dipersiapkan untuk berjuang ke Kalimantan Barat. Rencana keberangkatan dari Tanjung Priok tampaknya telah terbaca oleh Belanda yang sudah kembali ke Indonesia. Rahadi Osman dan teman-teman seperjuangan akhirnya memilih jalan melalui Pelabuhan Tegal menuju Kalimantan Barat. 

Tepat pada tanggal 23 November 1945, jam 16.00 Wib, dari Pelabuhan Tegal diberangkatkan dua buah perahu kapal motor. Kapal Motor pertama bernama “Sri Kayung”, tampaknya kapal motor ini memang berasal dari Ketapang karena nama ‘Kayung’ nya, nama Sri Kayong juga merupakan Kapal Kerajaan milik Panembahan Saunan. Kapal Sri Kayung cukup besar hingga bisa ditumpangi oleh Rahadi Osman dan rombongan sebanyak 43 orang. Kapal ini diarahkan menuju Ketapang, sedangkan perahu yang satunya lagi diarahkan menuju Pontianak. 

Adapun perlengkapan yang dibawa terdiri dari : satu buah radio pengirim, satu buah radio penerima, beberapa peti alat penerangan, lima pucuk pistol, dua buah granat tangan buatan Jepang, yang ternyata rusak dan tidak bisa dipergunakan serta sejumlah parang.

Keberangkatan rombongan Rahadi Osman ini merupakan pasukan ekspedisi pertama yang secara resmi dikirim oleh pemerintah Republik Indonesia ke Kalimantan dalam usaha mengemban tugas-tugas tertentu demi negara. Rahadi Osman dalam rombongan itu bertindak sebagai komandan dan Machrus Effendi sebagai kepala staf serta dibantu oleh tiga orang asisten, yaitu Abdul Kadir Kasim, Jafar Said dan A. Tambunan. Sedangkan anggota pasukan lainnya, antara lain tercatat nama Gusti Usman Idris, Haji Abdul Kadir, Rahat Lumbanpea, Soeminta, Tarmizi Arsyad, Hasan Thalib dan lain sebagainya. Melihat nama – namanya, pasukan Rahadi Osman mencerminkan banyak suku bangsa.

Tujuh hari perjalanan, pada 30 November 1945, rombongan Rahadi Osman berhasil mendarat di pantai kampung Sungai Besar, daerah Matan Hilir Negeri Kerajaan Matan yang kini terletak di Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang. Setibanya rombongan di Sungai Besar, mereka diterima dan disambut baik oleh kepala kampung Sungai Besar yang bernama Haji Abdul Rahim Saleh. Seluruh anggota rombongan ditempatkan di sebuah pondok yang berjarak sekitar 2 km dari kampung Sungai Besar. Rahadi Osman dan rombongan mendapati informasi bahwa Ketapang telah diduduki oleh pasukan Belanda yang datang dari Pontianak.

Rahadi Osman kemudian memutuskan kampung Sungai Besar ditetapkan sebagai markas pertahanan sementara bagi pasukan Rahadi Osman. Keputusan tersebut didukung oleh rombongan pasukannya dan penduduk disekitar kampung Sungai Besar. Rahadi Osman dan teman-teman seperjuangannya segera menyusun strategi untuk menyerang kedudukan Belanda di Ketapang. Akan tetapi akhirnya Belanda mengetahui adanya aktivitas pejuang yang akan menentang Belanda di Ketapang.

7 Desember 1945, Belanda melakukan penyerangan secara tiba-tiba ke Sungai Besar. Serangan ini menimbulkan kepanikan terhadap anggota pasukan Rahadi Osman. Hal ini terjadi karena ketiadaan senjata untuk menghadang musuh dan ditambah lagi dengan kurangnya pengalaman dalam bertempur. Dalam serangan itu, Belanda kehilangan 3 orang pasukannya. Belanda semakin menekan pasukan Rahadi Osman hingga mengakibatkan Rahadi Osman gugur tertembak. Pasukan Rahadi Osman yang tersisa kemudian mengundurkan diri ke Pulau Bawal. 

Jasad Rahadi Osman yang tewas bersimbah darah itu tetap tergeletak di tempat ia tertembak sampai malam hari. Pada saat itu, tidak seorangpun dari teman seperjuangan atau rakyat setempat yang berani untuk mendekati mayatnya apalagi untuk mengangkatnya, karena pasukan Belanda selalu mengawasi tempat tersebut. Kemudian baru pada malam harinya di saat pasukan Belanda pergi, jenazah Rahadi Osman berhasil diangkat dan dikebumikan di Sungai Besar. 

Pada masa hidupnya, Rahadi Osman pernah mengatakan bahwa apabila ia tewas dalam pertempuran, permintaannya adalah agar ia dikubur di tempat tetes darahnya yang terakhir. Dengan alasan tersebut, jasad Rahadi Osman dikuburkan di kampung Sungai Besar Kabupaten Ketapang. 

Namun kemudian jasad Sang Pahlawan dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Tanjung Pura di kota Ketapang. Upacara pemakaman kembali kerangka jenazah tersebut berlangsung secara militer dan yang bertindak sebagai pemimpin upacara adalah Gubernur Kalimantan Barat masa itu Pak Parjoko.







Yang tertinggal di tempat pengorbanan Jiwa Rahadi Osman di Desa Sungai besar hanyalah monumen tetes darah penghabisan serta monumen Kapal Sri Kayung yang didalamnya berisi 3 nisan, salah satunya bertulis Rahadi Ismail Osman, gugur 7-12-45.

Postingan Populer